Think Bigger, Act Smarter, Live Better!

Ganti Bahasa Indonesia

Event


Inhouse Training di Jakarta : The Power of Working with Emotional Intelligence bersama PT Wika Industri Energi (Batch 2)Inhouse Training di Jakarta : The Power of Working with Emotional Intelligence bersama PT Wika Industri Energi (Batch 2)

Training Motivasi Leadership di Jakarta – The Power of Working with Emotional Intelligence (Batch 2)

Trai ning kepemimpinan selama 1 ... read more

Seminar Leadership di Bogor : Building Solid Teams bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Divisi PeralatanSeminar Leadership di Bogor : Building Solid Teams bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Divisi Peralatan
Seminar Motivasi Leadership di Bogor – Building Solid Teams

Semi nar Motivasi leadership bersama teman-teman dari PT Wijaya Karya (Persero) Tbk ... read more

Inhouse Training di Jakarta : The Power of Working with Emotional Intelligence bersama PT Wika Industri Energi Inhouse Training di Jakarta : The Power of Working with Emotional Intelligence bersama PT Wika Industri Energi

Training Motivasi Leadership di Jakarta – The Power of Working with Emotional Intelligence (Batch 1) Training kepemimpinan selama 1 hari ... read more

Inhouse Training di Jakarta : The Power of Working with Emotional Intelligence bersama PT Bank Tabungan Negara (Persero) TbkInhouse Training di Jakarta : The Power of Working with Emotional Intelligence bersama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk

Training Motivasi Leadership di Jakarta – The Power of Working with Emotional Intelligence. Training motivasi leadership yang berlangsung ... read more

Inhouse Seminar di Semarang : Building High Performance Teams bersama Bank Mandiri SemarangInhouse Seminar di Semarang : Building High Performance Teams bersama Bank Mandiri Semarang

Seminar Motivasi Leadership - Building High Performance Teams. Seminar motivasi leadership dengan para Kepala Cabang Bank Mandiri Semarang ini diikuti oleh ... read more

Inhouse Training di Jakarta : Problem Solving & Dicision Making bersama PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama TbkInhouse Training di Jakarta : Problem Solving & Dicision Making bersama PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk

Training Leadership di Jakarta – Problem Solving & Dicision Making. Training motivasi leadership dengan topik "Problem Solving & Dicision Making" ... read more

Inhouse Training di Cirebon : Dahsyatnya Nilai Diri bersama PT Pertamina BalonganInhouse Training di Cirebon : Dahsyatnya Nilai Diri bersama PT Pertamina Balongan

Training Leadership di Cirebon – Dahsyatnya Nilai Diri. Ekspresi mencerminkan ekspektasi. Begitulah gambaran wajah teman-teman PT Pertamina Balongan saat mengikuti seminar motivasi leadership ... read more

In house Seminar di Lampung : Working with Emotional Intelligence bersama PT VIVO LAMPUNG INDONESIAIn house Seminar di Lampung : Working with Emotional Intelligence bersama PT VIVO LAMPUNG INDONESIA

Trai ning motivasi leadership yang berlangsung selama 1 hari bersama 15 orang PIC, Supervisor dan Trainer dari PT ... read more

Memperingati Hari Kartini : Bea Cukai Cikarang dengan topik Working with Emotional IntelligenceMemperingati Hari Kartini : Bea Cukai Cikarang dengan topik Working with Emotional Intelligence

Semi nar motivasi bersama Ainy Fauziyah, pakar motivasi Indonesia yang sangat menginspirasi dalam memperingati Hari Kartini dengan topik “Working ... read more


View All Event

Article

Artikel Motivasi Anak | Anak Dibully, Bagaimana Cara Mengatasinya?


Menyaksikan video anak-anak yang dibully, rasanya miris sekali. Nggak habis pikir mengapa ini bisa terjadi. Teman yang seharusnya dilindungi, malah diperlakukan tidak manusiawi.

Bisa jadi kita bertanya di dalam hati, siapa yang seharusnya bertanggung jawab memastikan peristiwa bully ini tidak terjadi lagi?

Jika itu pertanyaan kita, sudah pasti kita akan saling menunjuk jari. Mengarahkan jari kita ke orang lain. Pelakunyalah, gurunyalah, lingkungan sekolahnyalah, orang tuanyalah yang nggak bisa mendidik dan seterusnya. Kalau begini, nggak ada habisnya. Namanya juga saling tunjuk jari ;)

Saya jadi teringat akan pengalaman berbicara dari hati ke hati dengan anak-anak SMP yang mengalami bully di sekolahnya. Dari ditertawakan hingga dicemooh yang menyakitkan.

Gara-gara dibully teman-teman sekolahnya, ada yang memutuskan berhenti sekolah dengan berdiam diri di dalam rumah karena rasa malunya, ada yang pindah sekolah dan ada juga yang tetap di sekolah sama dengan resiko harus menghadapi bully dari teman-temannya.

Saya juga teringat akan pengakuan seorang anak yang pernah membully seorang teman sekolahnya. Saat itu dia baru menyadari, bahkan sangat menyesali akan sikapnya yang tak terpuji itu.

Masih segar dalam ingatan kita akan peristiwa bully anak-anak mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta yang membuli temannya sendiri yang menderita autis. Dari menarik tasnya hingga melemparnya dengan sebuah bak sampah.

Begitu juga dengan seorang anak perempuan SD yang dikeroyok anak-anak SMP di Thamrin City Jakarta. Dari dijambak, dibanting, ditendang, disuruh mencium tangan anak-anak yang telah menendangnya hingga sujud kepada mereka.

Astaghfirullah. Menyaksikan video mereka, miris sekali rasanya. Berkali-kali mengucapkan astaghfirullah, serasa tak percaya melihat anak-anak seusia mereka dengan tega melakukannya.

Tanpa rasa penyesalan sedikit pun. Yang ada justru rasa puas bisa menyiksanya dan mempermalukannya di hadapan teman-teman kelompoknya.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan bersama agar peristiwa itu tidak terjadi lagi? Baik dibully maupun pelaku bully? Apa peran kita?


Pertama, membangun kesadaran pada anak-anak kita tercinta bahwa membully adalah perbuatan tak terpuji.



Dan membully ini bisa terjadi pada siapa saja termasuk anak kita sendiri. Bisa juga terjadi pada teman-teman mereka.

Pastikan mereka memahami bahwa membully adalah sikap yang wajib mereka jauhi.

Bahwa membully itu bisa dalam bentuk melakukan kekerasan fisik pada teman sendiri, mengolok-olok teman dengan perkataan yang menyakitkan dan merendahkan, ataupun melakukan pengucilan seorang teman meskipun bermaksud memberikan pelajaran.

Jika anak kita melihat seorang temannya dibully, ia wajib membelanya. Bukan ikut membully. Atau jika ia takut untuk melakukan pembelaan, maka ia harus melaporkan langsung kejadian itu pada guru sekolahnya.


Kedua, membangun sikap peduli dan melindungi, khususnya pada teman-temannya yang dibully ataupun berkebutuhan khusus.



Ajak mereka memahami akan betapa kepedulian dan keberanian mereka untuk melindungi ini juga sangat berguna untuk diri mereka sendiri.

Kelak jika mereka menjadi seorang pemimpin, maka mereka adalah pemimpin yang dicintai dan dihormati. Karena sikapnya yang peduli dan berani melindungi.

Tapi, bagaimana jika ternyata anak kita sendiri yang dibully? Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Pindah sekolahkah? Atau membujuknya untuk sekolah di rumah saja, home schooling tanpa sibuk memikirkan ketakutan karena dibully?

Sungguh! Tidaklah mudah menjadi orang tua yang memiliki anak dibully.


Baca Juga : Bohong Itu Menyenangkan?


Begitu juga halnya dengan anak kita yang menjadi korban dibully. Berat baginya menghadapi fakta dirinya harus dibully, khususnya oleh teman-temannya sendiri.

Hanya saja, mau tidak mau. Suka tidak suka, kita harus menghadapinya dengan hati. Bukan emosi.

Pertama, setia mendampingi sepenuh hati.


Bukan 24 jam full loh. Tetapi meluangkan waktu yang lebih dan berkualitas untuk sering berbicara dari hati ke hati, memdengarkan keluh kesah mereka, mengajaknya bermain dan melakukan kegiatan di luar rumah, melakukan hal-hal yang ia suka guna membangkitkan rasa percaya dirinya dan selalu mengingatkan mereka akan cita-cita besarnya.

Katakan dengan penuh cinta bahwa kita benar-benar bangga dengan mereka. Tunjukkan kelebihannya, potensi dirinya. Berikan apresiasi kita atas setiap sikap baiknya, karyanya maupun setiap perubahan baiknya, sekecil apa pun itu.

Pastikan kita melakukannya secara konsisten. Bukan hanya sekali, ataupun dua kali, maupun sepuluh kali. Tetapi berpuluh kali hingga ribuan kali.

Kedua, sampaikan pada wali kelas bahwa anak kita dibully teman-temannya.


Ungkapkan perasaan kita sebagai orang tua, yang prihatin atas sikap tak terpuji teman-temannya. Amati perkembangannya.

Lalu, bagaimana jika posisi kita sebagai seorang guru atau kepala sekolah? Apa yang wajib kita lakukan sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai seorang pendidik?


Pertama, kenali sejak dini setiap anak didik kita, khususnya kita para guru.


Adakah di antara mereka yang berkebutuhan khusus? Kenali siapa saja yang bersikap kasar. Dan siapa saja yang sering dibully temannya.


Kedua, bangun pemahaman pada setiap anak didik kita bahwa sebagai manusia, adalah kewajiban kita untuk menyayangi sesama.




Melindungi sesama. Dan berteman dengan siapa saja tanpa harus membedakan siapa mereka. Karena setiap diri mereka memiliki hak yang sama.


Ketiga, jika ada salah satu anak didik kita berkebutuhan khusus, pastikan setiap anak wajib menjaganya.


Berteman dengannya. Bermain bersamanya. Dan belajar bersamanya.


Amati! Murid mana sajakah yang peduli dengannya. Dan pujilah! Apresiasilah setiap sikap baiknya di depan teman-teman sekelasnya.

Puji dan apresiasi juga anak yang berkebutuhan khusus itu di depan teman-teman sekelasnya atas setiap perubahan baiknya. Setiap perjuangannya untuk bisa belajar dengan teman-temannya. Demi membangkitkan rasa percaya dirinya. Yang membuatnya merasa dirinya bukanlah berbeda.


Keempat, amati anak-anak yang bersikap kasar padanya. Dan cenderung membullynya.


Ajaklah mereka yang bersikap kasar ini untuk berbicara empat mata, dari hati ke hati dengan kita sebagai gurunya.


Tunjukkan sifat baik yang ada di dalam dirinya. Sekecil apapun itu, hargailah. Apresiasilah. Tuk membuatnya menyadari bahwa dirinya adalah seorang anak yang baik. Hanya saja ia harus berubah untuk lebih baik lagi, dan melindungi temannya sendiri. Bukan justru membully.

Mintalah padanya untuk melindungi temannya. Bukan membully. Apalagi memusuhinya. Tanyakan padanya, bagaimana seandainya anak yang ia bully adalah adiknya atau dirinya? Apa yang ia rasakan?

Mintalah ia berubah saat itu juga. Tanyakan, apa yang harus ia lakukan untuk berhenti membully. Kapan dan bagaimana? Mintalah ia berjanji untuk menepati.

Kemudian amati. Pastikan ia menepati setiap janjinya. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai gurunya. Karena setiap sikap buruk anak didik kita di sekolah maupun jam sekolah, mereka adalah tanggung-jawab kita.

Jangan lupa mengapresiasi sambil mengucapkan terima kasih atas setiap perubahan baik yang dilakukan anak yang bersikap kasar itu.

Sampaikan sepenuh hati kepadanya secara empat mata. Juga di depan teman-teman sekelasnya.

Buatlah setiap anak didik kita merasa bangga atas sikap baiknya. Perubahannya. Kepeduliannya dan kemauannya untuk berubah.


Jika setiap diri kita turut ambil bagian dalam pencegahan bully dengan langkah-langkah sederhana ini, maka tak ada lagi anak yang dibully maupun membully. Karena kita turut aktif berperan melakukannya.



Yuk bersama kita ambil bagian. Melakukan tanggung jawab kita sebagai orang tua, pendidik sekaligus sahabat anak-anak kita tercinta.

Bersama kita bangun anak-anak yang berkarakter. Anak-anak yang humanis, hebat nan membumi.

Bismillah, semoga coretan ini membangun kesadaran kita akan pentingnya peranan kita sebagai orang tua dalam membangun budaya peduli dan melindungi.

Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang berbudi pekerti, memiliki hati nurani untuk menyayangi sesamanya. Aamiin.


Anda suka artikel motivasi dari motivator handal ini? Share yuk!

Updated Wednesday, 21 Mar 2018


Video Motivasi Terbaik | Kecewa? Yuk Lakukan Ini. 1 Menit Atasi Kecewa by Ainy Fauziyah ALC