10 Rahasia Hidup Bahagia yang kita sepelekan selama ini

10-Rahasia-Hidup-Bahagia-yang-Kita-Sepelekan

10 Rahasia Hidup Bahagia yang kita sepelekan selama ini

Sering orang bertanya, apa sih rahasia hidup bahagia dan sukses?

Hemmmmm… Jika saja kita menyadari bahwa sebenarnya setiap diri kita sangat tahu jawabannya, maka kita tidak akan lagi sibuk mencari jawabannya.

Untuk hidup bahagia itu sangatlah mudah. Semudah kita membalikkan tangan kita. Bahkan kita bisa meraih kebahagiaan itu sekarang juga. Detik ini juga. Nggak percaya? Yuk, kita buktikan sekarang.

Pertama, selalu miliki niat baik dalam hidup kita. Kapanpun. Di manapun. Dan dengan siapapun.

Kedua, raih impian-impian mulia kita yang bermanfaat untuk banyak orang. Tanpa kenal lelah apalagi putus asa.

Ketiga, syukuri setiap apapun yang melekat pada diri kita. Apapun yang kita miliki, syukurilah.

Keempat, lakukan segala sesuatu dengan tulus ikhlas, tanpa ada rasa pamrih sedikitpun.

Kelima, teruslah memperbaiki diri. Pastikan hari ini, sikap dan perilaku kita lebih baik dari kemarin. Dan pastikan besok jauh lebih baik dari hari ini.

Keenam, selalu ciptakan momen terindah dalam hidup Anda. Boleh tahu apa momen terindah Anda dalam hidup?

Memiliki rumah mewah? Mobil Jaguar? Menjadi milyuner? Menjadi pejabat tinggi yang sangat dihormati?

Momen terindah dalam hidup bukanlah diukur dari seberapa banyak materi yang kita miliki. Tidak juga diukur dari seberapa tinggi jabatan yang kita miliki. Sebaliknya. Momen terindah dalam hidup adalah ketika kita bisa membuat anak-anak dan suami tercinta bahagia.

Ketika bisa memasak menu kesukaan mereka dan makan masakan kita dengan lahapnya. Ketika bisa pergi bersama ke tempat yang anak-anak impikan. Termasuk ketika memiliki waktu yang berkualitas untuk suami dan anak-anak tercinta.

Hal-hal sederhana inilah momen terindah dalam hidup kita.

Bagaimana dengan Anda? Apa momen terindah dalam hidup Anda?

Ketujuh, seringlah tersenyum. Pastikan Anda senyum dengan tulus. Benarkah senyum yang tulus itu memberi kebahagiaan? Jawabannya, “Ya, benar sekali.”

Lalu seberapa penting bagi diri Anda untuk rajin tersenyum dengan tulus? Kali ini jawabannya, “Sangatlah penting!

Hem, sadarkah kita bahwa senyum tulus kita memberi kebahagiaan?

Ya, kebahagiaan baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain tentunya.

Benarkah? Apa buktinya? Baiklah, mari kita buktikan sama-sama. Mulai sekarang juga, saat Anda membaca artikel ini, tersenyumlah dengan tulus.

Tidak peduli apakah Anda saat ini sedang kesal, marah, sedih, dll. Ya, sekarang juga, tersenyumlah dengan tulus.

Apa yang Anda rasakan sekarang saat Anda tersenyum dengan tulus? Hati Anda saat ini juga terasa lebih baik, bukan? Dan ini adalah bagian dari rasa bahagia di dalam diri Anda, bukan?

Tahukah Anda, ketika kita tersenyum, sebenarnya siapakah orang pertama yang Anda hibur? Diri Anda sendiri, bukan? Betul sekali.

Orang pertama yang Anda hibur ketika Anda tersenyum dengan tulus adalah diri Anda sendiri. Dan saat ini juga di wajah Anda pun terpancar cahaya kebahagiaan. Orang lain yang menerima senyum Anda.

Ya, benar. Orang lain yang menerima senyum Anda pun hatinya ikut terhibur. Dan saat itu juga di wajahnya terpancarkan kebahagiaan. Sungguh mulia, bukan?

Bukankah senyum adalah bagian dari ibadah? Inilah indahnya tersenyum dengan tulus. Inilah nikmatnya tersenyum.

Kedelapan, jadilah pribadi yang berhati baik. Jauh dari niat & sikap buruk.

Menjadi pribadi yang baik hati itu nikmatnya luar biasa. Banyak teman bahkan sering dirindukan banyak orang.

Bagaimana tidak? Apa yang Ia lakukan dilandasi dengan ketulusan hati.

Ia pun senang membantu orang lain. Baginya membantu orang lain dan berbaik hati adalah kebahagiaan yang selalu Ia rindukan. Inilah yang membuat dirinya selalu dirindukan banyak orang. Kebaikan hatinyalah yang selalu kita rindukan.

Sangat berbeda halnya dengan pribadi yang berhati kurang baik.

Orang yang berhati kurang baik, di dalam hidupnya selalu dipenuhi dengan kegelisahan, ketakutan bahkan kebencian. Itulah sebabnya ia selalu jauh dari kebahagiaan.

Baca Juga : Inilah Cara Mengenal Diri Sendiri

Orang yang berhati kurang baik, selalu melakukan sesuatu karena untuk kepentingan yang ujung-ujungnya demi memuaskan dirinya sendiri .

Itulah sebabnya Ia tidak memiliki teman. Ya, karena Ia egois. Plus mau menangnya sendiri.

Orang yang berhati kurang baik ini, cenderung menjadi penjilat. Jauh dari ketulusan hati dan selalu pamrih diri. Cenderung menuntut haknya daripada melakukan kewajibannya sebagai seorang manusia.

Hmmmmmmm… Kalau begitu, dari ciri-ciri tersebut, termasuk yang manakah diri kita selama ini? Baik hati atau kurang baik? Saatnya jujur di dalam hati.

Kesembilan, selalu miliki etika dalam hidup kita

Etika mencerminkan siapa diri kita. Membuat orang lain percaya kepada kita dan membuat mereka menghargai diri kita.

Beretika itu bukan hanya santun di tutur kata, tetapi juga santun di hati, pikiran dan perbuatan.

Tinggi rendahnya etika kita bisa dilihat dari cara kita memperlakukan orang lain. Cara kita mendengarkan pendapat orang lain dan cara kita merespon sikap dan tutur kata orang lain.

Semakin tinggi etika kita, semakin banyak kepercayaan yang kita dapatkan. Dan semakin erat tali persaudaraan kita sebagaimana yang selalu kita rindukan.

Untuk menjadi pribadi yang beretika, dibutuhkan kejernihan hati dan pikiran. Ketulusan dan keterbukaan. Kemauan memahami kondisi sekaligus menanggalkan ego yang menyakiti hati.

Baca Juga : Ainy Fauziyah Motivator Wanita Terbaik Indonesia yang Sukses Menjadikan Bisnisnya Menggurita

Kesepuluh, bangunlah kepercayaan. Bukan kekuasaan

Antara kepercayaan & kekuasaan itu bedanya sangat tipis, hanya 4 huruf yaitu niat. Orang yang berniat baik, melihat kekuasaan sebagai kepercayaan untuk memperbaiki kondisi, sekaligus mengangkat harkat dan derajat hidup orang lain. Tak kenal kata menyerah apalagi putus asa, khususnya dalam melakukan kebajikan.

Orang yang berniat baik ini menemukan kebahagiaan yang hakiki dalam hidupnya. Ia bekerja sepenuh hati dan selalu peduli untuk terus memperbaiki diri.

Sebaliknya!

Orang yang berniat buruk, melihat kepercayaan sebagai kekuasaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bukannya memperbaiki kondisi, malah memperburuk kondisi. Bukannya mengangkat harkat dan derajat orang lain, justru menurunkan harkat dan derajat orang lain.

Orang yang berniat buruk itu, tidak memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hidupnya. Karena di dalam dirinya penuh dengan keserakahan akan harta dan jabatan.

Saatnya kita isi hidup ini dengan niat yang baik. Karena di setiap niat baik memberikan kita kebahagiaan yang hakiki!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here