5 Penyebab Orang Menjauhi Anda

Leadership-Training-bersama-Motivator-Indonesia-Ainy-Fauzuyah-Training-Soft-Skills.

5 Penyebab Orang Menjauhi Anda

Pernahkah Anda bertanya mengapa orang lain bersikap kurang bersahabat dengan kita.

Bisa jadi Anda belum menyadari bahwa sikap Andalah yang membuat mereka menjadi kurang bersahabat dengan Anda.

Inilah 5 alasan utama mengapa orang lain menjauhi Anda.

Pertama, berkata yang menyakitkan.

Kedua, merasa paling benar. Menuntut orang lain untuk selalu memahami diri Anda. Sementara itu, Anda sendiri tidak mau memahami perasaan apalagi kebutuhan mereka.

Ketiga, merasa kuatir yang berlebihan.

Keempat, menebarkan kebencian.

Kelima, pamrih.

Baca Juga : Inilah Cara Mengenal Diri Sendiri

Wah-wah. Repot juga ya….

Egois, tidak peduli dan sering berprasangka adalah penyebab itu semua.

Ternyata 3 sikap negatif itulah yang membuat diri Anda dijauhi orang lain.

Pertanyaannya dari ketiga sikap negatif itu, pernahkah Anda melakukannya?



Seorang peserta training motivasi leadership bertanya mengapa BERKATA YANG MENYAKITKAN itu sebenarnya telah menyakiti diri sendiri?



Nah untuk lebih mudahnya, yuk kita kenali contoh BERKATA YANG MENYAKITKAN seperti ketika kita mengumpat orang lain/memaki dengan kata-kata kasar/menghina orang lain dengan maksud merendahkan.



BERKATA YANG MENYAKITKAN disamping menyakiti orang yang bersangkutan, tentu juga menyakiti orang yang melakukan.

Sekarang silahkan Anda mengingat kembali ketika BERKATA YANG MENYAKITKAN, apakah kita merasa senang, lega dan bangga telah melakukannya.

Dan setelah melakukannya di ‘peristiwa itu’ apakah kita tetap merasa senang, lega dan bangga telah melakukannya?

Jika jawabannya adalah senang, lega dan bangga, maka sudah saatnya kita BERUBAH. Benar-benar meminta maaf kepada yang bersangkutan pertanda sangat menyesalinya serta berjanji untuk berhenti melakukannya.

Dan jika jawabannya adalah menyesal telah berkata yang menyakitkan, maka segeralah meminta maaf pertanda menyesal dan tentu saja berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya.

Inilah arti menjadi pribadi yang lebih baik, terus berusaha membenahi diri tuk menjadi pribadi yang lebih santun dalam bertutur kata, menepati apa yang telah kita katakan dan bukan justru menyakiti orang lain.

Ketika kita berkata yang menyakitkan, sesungguhnya yang tersakiti itu bukan hanya orang lain, tetapi juga diri kita sendiri.

Dan ketika kita berbicara yang menyejukkan, sebenarnya kita telah menyejukkan diri sendiri.

Saya jadi teringat dengan kisah salah seorang peserta training motivasi beberapa waktu lalu. Di matanya, orang-orang di sekitarnya itu selalu bekerja kurang maksimal dan banyak kekurangan. Inilah yang membuatnya sulit memberi kepercayaan kepada mereka.

“Bu Ainy, saya mempunyai team yang sulit diajak bekerja sama. Mereka ini tidak mau mendengarkan saya. Rasanya, mereka tidak menghargai saya sebagai atasannya. Capek banget deh Bu.” keluhnya.

Beberapa waktu kemudian setelah mendiskusikan topic tentang membangun kepercayaan, barulah ia menyadari akan kekurangannya sebagai seorang atasan. Bahwa ternyata selama ini dirinya itu termasuk golongan atasan yang merasa dirinya paling benar.

“Merasa paling benar, membuat dirinya sulit dipercaya, apalagi dihargai dan dihormati orang-orang di sekitarnya.”

Akhirnya dengan bijaksana ia mengakui kekurangannya yang selalu merasa paling benar itu. Ia pun berjanji untuk menjadi seorang pendengar yang baik, supportif dan apresiatif.

Mendengar pengakuannya itu, sontak team tercintanya pun melakukan hal yang sama. Mereka pun mengakui kekurangan mereka dan berjanji untuk memperbaikinya sekaligus mencapai progres secara maksimal. Luar biasa, bukan?

Atasan pun manusia, yang tak luput dari kekurangan. Sebagai seorang atasan kita perlu menjadi seorang pendengar yang baik, supportif dan apresiatif. Bagaimana dengan Anda?

Pernahkah Anda mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan?

Lalu, apa yang Anda lakukan?

Hemmmm… tentu saja kita wajib mengenali penyebabnya, bukan?

Pernah suatu hari saya bertemu dengan seorang teman yang tengah mengkhawatirkan jabatannya karena berada di ujung tanduk. Sikapnya yang gelisah itu menunjukkan suasana hatinya yang sangat khawatir.

“Ainy, apa yang harus saya lakukan untuk menyikapi kekhawatiran ini?” tanya dia kepada saya.

Sambil tersenyum saya menjawabnya dengan 2 kata, yaitu kenali penyebabnya.

Baca Juga : Hadapi Resiko Dengan 3 Langkah Ini

3 hal berikut ini adalah penyebab utama timbulnya rasa kuatir.

Pertama, ketika kita sudah melakukan segala sesuatu yang terbaik, tetapi hasilnya belum sesuai harapan.

Kedua, karena kita selama ini melakukan segala sesuatu biasa-biasa saja.
Sehingga apa yang kita inginkan tak tercapai juga.

Ketiga, rasa khawatir itu timbul karena kita belum melakukan tindakan apapun, istilah kerennya NATO, No Action Talk Only.

Dari ketiga penyebab itu yang manakah diri kita selama ini? Saatnya jujur di dalam hati

BENCI itu merugikan dan sangat menyakitkan.

Setiap kebencian menciptakan permasalahan. Dan menjauhkan kita dari keteduhan hati yang kita rindukan. Apalagi kebahagiaan yang kita harapkan.

Sungguh! Apalah arti hidup ini jika kita saling membenci dan memaki. Ataupun turut membenci serta menyakiti.

Karena di setiap kebencian menjauhkan kita dari kebaikan dan kebahagiaan yang senantiasa kita impikan.

Apalah guna usia kita bertambah. Jika di setiap kata kita menyakiti sesama. Di setiap perbuatan kita membenci sesama. Dan di setiap kesempatan kita senang melihat orang lain menderita.

Kita ini hanyalah manusia biasa. Yang masih jauh dari kesempurnaan yang kita inginkan. Dan masih banyak memiliki berbagai kekurangan.

Mari kita sudahi setiap kebencian. Dan senantiasa mengawalinya dengan kebaikan.

Mari, di sisa usia yang kita miliki ini, kita saling berlomba memperbaiki diri. Mengisi hari dengan sesuatu yang berarti, agar kelak jika mati, kita dikenang sebagai orang yang sibuk melakukan kebaikan. Bukan kebencian dan perbuatan yang selalu menyakitkan.

Kapan terakhir kali Anda menghadapi orang yang pamrih? Apa yang Anda rasakan saat itu?

Wahhhh sudah pasti tidak enak lah ya…. Antara rasa sedih dan kecewa…
pamrih itu harus dengan hati yang jernih. Jauhi emosi diri, dan ketuklah dengan hati.

Tahukah Anda, apa yang kita lakukan, itulah yang kita dapatkan.

Setiap kali kita berbuat tulus, sebenarnya ketulusan itu adalah untuk diri kita sendiri.
Ketulusan membuahkan kebahagiaan, melapangkan hati serta memudahkan diri dalam meraih impian.

Sebaliknya.

Setiap kali berbuat pamrih, sebenarnya kepamrihan itu untuk diri kita sendiri.
Kepamrihan membuahkan kekecewaan, menyempitkan hati dan pikiran dalam meraih impian.

Nah, sekarang mari kita bertanya di dalam hati.
Selama ini termasuk pribadi yang manakah diri kita? Pribadi yang tulus atau bersikap pamrih?

Saatnya jujur di dalam hati.

Anda suka dengan artikel tentang motivasi ini? Share yuk!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here